Tambang-Hutan dan Perkebunan-Laut Pesisir

Jumat, 18 Mei 2012

Kapal Isap Harus Angkat Kaki dari Parai

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Kapal Isap Produksu (KIP) harus angkat kaki mulai dari kawasan peraiaran pantai Batavia hingga Pantai Matras Sungailiat. Jangan ada lagi aktivitas KIP di sana karena masyarakat menjadi resah.

Setidaknya sejumlah kegiatan masyarakat di pesisir pantai tersebut menjadi terganggu, mulai dari penangkaran tukik (anak penyu) di Pantai Batavia, kawasan tangkap nelayan Matras dan kawasan wisata Parai dan Pantai Matras. 


Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Walhi Bangka Belitung (Babel) Ratno Budi, Jum'at (18/5/2012).

Tercatat setidaknya ada tujuh KIP yang terdokumentasi oleh pihak manajemen Hotel Parai. Pada saat malam hari beberapa KIP beraktivitas di sekitar kawasan hotel.

"Kami memprotes keras perusahaan tambang yang jelas semakin merajalela dan menurut hemat kami sudah tidak manusiawi lagi, menggangu kegiatan masyarakat," ujar Ratno Budi yang akrab disapa Uday.

Menurut Uday, kegiatan KIP di kawasan tersebut di atas sudah tergolong masuk dalam pelanggaran berat kalau dilihat dari konteks legal. Apalagi khusus kompensasi yang diterima puluhan nelayan Matras hanya baerkisar Rp 300 ribu untuk triwulan dan sangat menyengsarakan.

Padahal akibat semakin menurunya hasil tangkapan, kondisi perekonomian nelayan sangat menyedihkan. Mereka harus berjuang mencari ikan ke kawasan yang lebih jauh dan tentunya membutuhkan biaya produksi yang lebih besar lagi.

Pengelola kawasan Parai Beach Resort & Spa semakin menuai kerugian dengan jumlah omset keuntungan yang terus menurun dikarenakan komplain dari pelanggan yang sangat tergaanggu dengan aktivitas pertambangan kapal isap khususnya di malam hari.

"Tak ada masyarakat di kawasan tersebut yang diuntungkan," kata Uday seraya menambahkan, pemerintah daerah setempat seharusnya menjadikan hal ini sebagai bahan evaluasi, mengingat kawasan tersebut tidak masuk dalam dokumen Amdal milik PT. Timah Tbk.

"Secara legal mitra yang bekerja sudah menyalahi aturan yang berlaku. Dalam konteks hukum diharapkan sekali kepada pihak institusi penegak hukum dan instansi terkait untuk segera mengambil langkah konkret dan tegas menyikapi masalah carut marutnya proses destruktif di kawasan perairan laut dan pesisir Sungailiat," ujar Uday.

Dia menambahkan,  "Tidak cukup dengan tindakan prefentif dan persuasif saja tapi harus ada tindakan tegas yang sesuai dengan perundang-undangan. Apalagi ini sudah mengindikasikan masuk dalam ranah pelanggaran pidana lingkungan."

http://bangka.tribunnews.com/2012/05/18/kapal-isap-harus-angkat-kaki-dari-parai

Senin, 14 Mei 2012

Walhi Babel Pertanyakan Nelayan Dukung KIP

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Direktur Eksekutif Walhi Bangka Belitung (Babel) Ratno Budi mempertanyakan sejumlah orang yang mengatasnamakan nelayan Rebo mendatangi DPRD Bangka untuk menyampaikan dukungan terhadap aktivitas kapal isap produksi (KIP), Senin (14/5/2012).

Pasalnya, Ratno mengungkapkan, pihaknya langsung mendatangi nelayan di Rebo namun tak satupun dari sekitar 70 orang nelayan bagan yang ikut ke DPRD, Senin.

"Menjadi pertanyaan besar jika ada orang yang mendukung mengatasnamakan nelayan Rebo. Nelayan mana itu kita jadi curiga. Jangan-jangan mereka ini mendukung karena mendapatkan keuntungan dari KIP," kata Ratno Budi yang akrab disapa Uday.

Ratno menambahkan, sebelum KIP beroperasi, nelayan bagan Rebo ada yang membuat bagan pada posisi di bawah 1 mil dari pantai. Namun, lanjut Ratno, setelah beroperasi mereka mengalami kerugian karena ikan dan hasil tangkapan lainnya berkurang drastis.

Nelayan setempat pun memindahkan bagan mereka hingga di atas 5 mil untuk mendatakan ikan. "Sementara kompensasi yang diberikan pun tidak sebanding dengan kerugian nelayan, bahkan kompensasi yang dijanjikan mulai menghilang. Nelayan menganggap tidak ada untungnya dengan operasi KIP, hanya merugikan karena tangkapan menurun," kata Ratno.

http://bangka.tribunnews.com/2012/05/14/walhi-babel-pertanyakan-nelayan-dukung-kip

Kamis, 10 Mei 2012

FMPL Minta Kajian Detail Soal Radiasi di Muntok

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL) Kabupaten Bangka Barat meminta pemerintah dan instansi terkait melakukan kajian ilmiah secara mendalam soal paparan radiasi khususnya di Muntok.

Ketua FMPL Kabupaten Bangka Barat David Karim mengatakan hasil penelitian itulah nanti sebagai referensi untuk mengukur kadar radiasi  di Muntok.

"Kalau kita rasakan memang daerah ini daerah sarat radiasi, hanya saja kadar tingginya seberapa besar. Seharusnya lembaha atau intitusi terkait dapat mengkaji secara ilmiah. Dengan kajian mendalam, berbagai antisipasi dapat dilakukan. Jika nanti terbukti daerah Muntok ini terpapar radiasi aktif, ini harus ada kajian detail," kata David kepada bangkapos.com di Muntok, Kamis (10/5/2012).

David juga menilai Muntok sebagai daerah yang potensi terpapar radiasi tinggi, terutama di daerah yang terdapat aktivitas penggalian bahan tambang dan sejumlah titik yang dijadikan lokasi pemurnian atau pengolahan logam timah.

http://bangka.tribunnews.com/2012/05/10/fmpl-minta-kajian-detail-soal-radiasi-di-muntok

Choirul Amri: Radiasi di Muntok Dibawah Ambang Batas

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kepala Dinas ESDM Pemkab Bangka Barat Choirul Amri Rani menegaskan, meski paparan radiasi radioaktif di Muntok tinggi, namun masih dibawah ambang batas.

"Dari pemantauan Bapeten diketahui bahwa di Babel punya radioaktivitas cukup besar, bisa 0,5 microsievert," jelas Amri kepada bangkapos.com Kamis (10/5/2012).

Amri mengungkapkan berdasarkan penelitian Badan Pengawas Teknologi Nuklir (Bapeten) pada tahun 2011 lalu, radioaktivitas yang disebabkan karena kegiatan manusia dan proses teknologi di Bangka Belitung, khususnya di Wilayah Kabupaten Bangka Barat terjadi peningkatan paparan potensial.

"Penelitian dan pengawasan radioakvifitas ini dilakukan mulai radius 5 kilometer dan akan direncanakan hingga 150 kilometer, tapi sementara dilakukan baru di radius 25 meter.

http://bangka.tribunnews.com/2012/05/10/choirul-amri-radiasi-di-muntok-dibawah-ambang-batas

Warga Muntok Minta Bentuk Zona Bebas dari Radiasi

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Beberapa warga Muntok, Bangka Barat khawatir daerah yang terkena paparan radiasi tinggi akan membawa dampak negatif terhadap masyarakat sekitar.

"Kami sebagai masyarakat juga harus tahu berapa tingkatan radiasi yang dikatakan aman dan masih dibawah ambang batas itu. Seperti di wasray Muntok, seharusnya kalau memang ada paparan radiasi tinggi, bentuk saja zona terbebas dari aktivitas umum. Di sana harus ada safety, jangan sampai lalu lintas manusia secara umum bebas keluar masuk zona radiasi itu," kata warga Muntok Mahdi kepada bangkapos.com, Kamis (10/5/2012).

Unit Metalurgi (Unmet) dan wasray Muntok merupakan dua titik lokasi yang terpaparan radiasi tinggi di wilayah Muntok, Bangka Barat.

Kendati paparan radiasi dianggap masih dibawah ambang batas, namun Mahdi mengharapkan pihak dan lembaga yang berkompeten jangan sampai lengah mengamankan area atau zona tersebut.

Seharusnya, tambah Mahdi, ada kajian dan penjelasan secara detail dan transparan soal seberapa besar galian tambang dan timah membaa radiasi. Hal ini untuk mencegah keresahan di masyarakat.

"Jelaskan secara riil, seberapa jauh dan terbuka tingkat radiasi itu, berikan kami pemahaman dan penjelasan hingga dampaknya terutama untuk fisik manusia," ujar Mahdi.

http://bangka.tribunnews.com/2012/05/10/warga-muntok-minta-bentuk-zona-bebas-dari-radiasi

Amri: Radiasi di Muntok Relatif Tinggi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kadin Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Pemkab Bangka Barat Choirul Amri Rani mengungkapkan, kadar radiasi di Muntok relatif  tinggi. Kondisi hampir sama juga terdapat di Koba (daerah penyimpanan tailing) disusul di Kantor PT Timah Pangkalpinang.

"Kalau yang tinggi di Muntok, lalu yang kedua Koba dan ketiga Kantor PT timah Pangkalpinang. Tapi semuanya masih aman, artinya dibawah ambang batas, ukuran itu sekitar tahun 2004-2005 lalu," kata Amri kepada bangkapos.com Rabu (9/5/2012) malam.

Amri meminta, jika mau data valid, ada di Dinkes Provinsi Babel, waktu itu mereka yang jadi narasumber ketika ada penelitian dari Bapeten, sedangkan ESDM sebagai pendamping.

Sedangkan kadar radiasi terkini, menurut Amri, sesuai sosialisasi yang disampaikan Badan Pengawas Teknologi Nuklir (Bapeten) beberapa waktu lalu, pada dasarnya kalau ada sumber radiasi yang tinggi, seharusnya menjauh.
 
http://bangka.tribunnews.com/2012/05/09/amri-radiasi-di-muntok-relatif-tinggi

Kadar Radiasi di Sebagian Pulau Bangka Mengkhawatirkan

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Sebagian wilayah Pulau Bangka diduga memiliki kadar radiasi di atas normal. Paparan radiasi di sebagian Pulau Bangka ini diduga berasal dari aktivitas pengolahan bijih timah.

Toyama Katsuhiro, Suwa Masaru dan Ino, tiga aktivis dan peneliti dari Jepang menemukan fakta tersebut di Pulau Bangka. Temuan itu didapat dari ketidaksengajaan mereka yang datang ke Bangka untuk mengetahui secara mendalam rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Bangka Belitung (Babel) sekaligus yang pertama Indonesia.

Tayoma Katsuhiro merupakan Japanese Committe Supporting the Victims of Kota Panjang Dam, Suwa Masaru, seorang jurnalis dari Jepang, dan Ino merupakan transleter kedua orang tersebut.

Mereka bersama Pastor Pramodo datang ke Bangka untuk mengetahui secara mendalam apakah ada keterlibatan pemerintahan Jepang dalam rencana pembangunan PLTN di Babel.

Mereka sempat pergi kedua titik lokasi bakal tapak yang saat ini diteliti oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), yakni Tanjung Ular Muntok Bangka Barat dan Sebagin Bangka Selatan.

Namun dalam perjalan, mereka melakukan kunjungan dan menemukan tingkat radiasi yang sangat mengkhawatirkan di Kota Muntok dan Pangkalpinang.

“Di Muntok dari alat pendeteksi radiasi, alat mencatat kadar radiasi 0,22 mikrosibel. Kalau di Jepang ini sudah sangat mengkhawatirkan,” kata Ino yang menerjemahkan kalimat yang diucapkan Toyama saat pertemuan di Sekretariat Walhi Bangka Belitung, Rabu (9/5/2012).

Tidak hanya di Muntok, mereka juga menemukan kadar radiasi cukup tinggi di Pangkalpinang. Dia menyebutkan, kadar radiasi di Pangkalpinang sebesar 0,19 mikrosible. “Toyama juga mengukur kadar radiasi pada timah,” kata Ino.

Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kepulauan Bangka Belitung Ratno Budi menilai hal ini perlu menjadi perhatian serius. Pihaknya akan segera mengkaji temuan tersebut.

“Kita akan mengusahakan alat mengukur apa benar demikian,” kata Ratno ditemui pada kesempatan yang sama.

Ratno menduga radiasi dipapar dari aktivitas pengolahan bijih timah di beberapa tempat di Bangka Belitung. “Terindikasi kalau aktivitas peleburan timah menjadi penyebab,” kata Ratno.

Dirinya mengatakan gejala dampak dari kondisi ini sudah terjadi. Hal itu dapat dilihat dari kerapnya ditemukan penyakit-penyakit kanker dan tumor yang mulai diderita masyarakat.

“Apakah penyebabnya karena faktor radiasi. Soalnya kasus-kasus penyakit mematikan seperti kanker dan tumor ataupun kelainan genetika sudah terjadi,” kata aktivis yang kerap disapa Uday.

Perlu Cek

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang Bani Baehaki mengatakan, perlu dilakukan pengecekan jika benar informasi tersebut.

“Kita harus cek dulu. Kita sendiri belum tahu. Saya akan ngobrol dengan teman-teman Walhi apa benar demikian,” ujar Bani.

http://bangka.tribunnews.com/2012/05/10/kadar-radiasi-di-sebagian-pulau-bangka-mengkhawatirkan