
SUNGAILIAT
– Dampak aktivitas kapal isap di perairan Sungailiat dan sekitarnya,
kini mulai dirasakan nelayan yang semula pro penambangan di laut. Para
nelayan Sungailiat yang sebelumnya menerima kompensasi atas penambangan
sejumlah kapal isap itu, mulai mengeluh berkurangnya hasil tangkapan
mereka.
Tidak hanya itu, limbah penambangan kapal isap pun sudah membuat nelayan
celaka. Salah satu contohnya, kejadian kapal nelayan dengan nama KM
Lingga yang tenggelam di perairan Karang Kering, Sungailiat hingga
menewaskan 4 orang nelayan pekan lalu, ternyata disebabkan limbah
penambangan kapal isap.
Limbah berupa pasir yang dihasilkan kapal isap, sudah membuat gusung
atau daratan di tengah laut. Dan saat malam hari atau air laut sedang
pasang, gusung itu tidak terlihat oleh nelayan, sehingga perahu nelayan
sering menabraknya dan terbalik. Itu juga yang terjadi terhadap KM
Lingga, terbalik dan tenggelam lantaran menabrak gusung limbah kapal
isap.
Hal ini seperti pengakuan tokoh masyarakat nelayan Sungailiat, H. Zainal
Abidin kepada Rakyat Pos, Selasa (27/12) kemarin. Karena itu, ia
menegaskan nelayan Sungailiat kini bereaksi menolak aktifitas
penambangan kapal isap yang semakin marak di wilayah perairan
Sungailiat.
“Dari pengakuan korban yang selamat, kecelakaan kapal tersebut
disebabkan perahu nelayan menabrak limbah kapal isap yang membentuk
gusung dan pada malam hari tidak terlihat oleh nelayan. Kami juga
mengharap kepada pengusaha kapal isap untuk memperhatikan permasalahan
ini. Bagaimana caranya itu permasalahan perusahaan untuk memikirkan,
karena adanya gusung itu sangat menganggu aktifitas nelayan di laut,”
jelasnya saat ditemui di kediamannya.
Zainal juga menyesalkan aktifitas penambangan kapal isap sangat dekat
jaraknya dengan daerah tangkapan nelayan. Akibatnya, nelayan kerap
mengalah dan menangkap ikan sejauh 2 kali lipat dari jarak sebelum ada
penambangan. Padahal dulu, apabila musim panceklik seperti sekarang ini,
nelayan mengakali melaut dengan jarak 4 mil dari bibir pantai. Namun
sekarang tidak bisa lagi karena terganggu aktifitas penambangan, dan
ikan sudah menjauh lebih ketengah lautan.
“Nelayan sangat terganggu sekali, dulu kalau sedang musin angin kencang
ini biasanya nelayan kami melaut dengan jarak dekat sekitar 3- 4 mil
dari laut. Tapi sekarang tidak bisa lagi. Untuk melaut saja nelayan
butuh dua kali lipat dari jarak sebelumnya,” ucap Zainal.
Diakuinya pula, selama satu tahun lebih kapal isap menambang di laut
Sungailiat, kompensasi yang diberikan ternyata tidak memberikan
kesejahteraan kepada nelayan.
“Dari penandatanganan kontrak dengan pengusaha kapal isap, nelayan kami
sudah merasa kalau adanya penambangan dan diberikan kontribusi itu
ternyata tidak dapat mensejahterakan nelayan kami. Hasil yang diberikan
dari dana CSR itu tidak sepadan dengan hasil nelayan kami melaut,”
katanya.
Disebutkan, kompensasi atau dana CSR kapal isap sudah 3 kali dibagikan
kepada nelayan, dengan besaran bervariasi. Untuk pencarian ketiga
sebanyak 3.000 nelayan mendapatkan Rp200 ribu per nelayan. Sedangkan
untuk pencairan kedua turun menjadi Rp100 ribu per nelayan. Nilai ini
tidak menentu karena dari perjanjian kontrak diberikan Rp1.000 per Kg
dan tergantung hasil timah penambangan perusahaan.
“Nilainya memang tidak menentu, setiap tiga bulan sekali baru dicairkan.
Pencairannya pada bulan kedua Rp100 ribu per nelayan, yang ketiga Rp200
ribu per nelayan. Dan yang keempat ini belum tahu jumlahnya berapa.
Seribu rupiah perkilogram timah itu tergantung dari hasil kapal isap
mendapatkan timah,” jelasnya.
Zainal menambahkan, dalam menindaklanjuti aspirasi seluruh nelayan yang
merasa penambangan kapal isap tidak menguntungkan, ia bersama tokoh
masyarakat lain beberapa waktu lalu sudah menyampaikan aspirasi menolak
kapal isap kepada Bupati Bangka. Para tokoh nelayan meminta bupati
segera menghentikan aktifitas kapal isap di perairan Sungailiat. Namun
sayang, hingga saat ini pihaknya belum menerima tanggapan dari bupati
mengenai permintaan tersebut.
“Memang tidak tahu kapan berakhirnya aktifitas KIP-KIP (kapal isap
produksi) tersebut, mungkin Distamben yang mengetahui. Kami disini hanya
panitia dan tidak pro KIP. Disini kami adalah nelayan dan selama satu
tahun ini adanya KIP tidak memberikan nelayan kami kesejahteraan,”
tegasnya.
Pihaknya sangat berharap seluruh pihak di pemda baik itu eksekutif
maupun legislatif, mendengar aspirasi masyarakat nelayan dan
menghentikan penambangan kapal isap. Versi Zainal, penambangan kapal
isap sudah berbenturan dengan program kawasan minapolitan daerah.
“Satu tahun kami sudah merasakan bahwa penambangan tidak memberikan
keuntungan. Ada juga program kawasan minapolitan yang ditargetkan untuk
lebih mensejahterakan nelayan dengan hasil tangkapan ikan yang lebih
banyak, itu jelas lebih menjamin kehidupan anak cucu kami dari pada
penambangan yang hanya menguntungkan sejumlah pihak saja,” tukasnya.
Sayangnya, Kabid Humas PT Timah, Wirtsa Firdaus saat dikonfirmasi
tentang keluhan dan desakan tokoh masyarakat agar kapal isap mitra PT
Timah dihentikan, belum dapat memberikan jawaban. Ia juga tidak bisa
merinci berapa banyak kapal isap yang beroperasi di Wilayah IUP PT Timah
di perairan Sungailiat.
Wirtsa hanya menjawab, saat ini direksi PT Timah masih merayakan liburan
Natal dan Tahun Baru sehingga belum dapat memastikan jumlah kapal isap
tersebut. “Masih libur Natal, nanti salah lagi beritanya. Masalah
wartawan disuap kemarin diangkat saja,” ucapnya melantur dalam balasan
SMS kepada wartawan harian ini.
Namun, beberapa waktu lalu, dari hasil pengecekan PT Timah, hanya
terdapat 3 unit kapal isap saja yang mengantongi IUP milik PT Timah di
perairan Sungailiat. Selebihnya, kapal isap yang menambang di Kuasa
Penambangan (KP) Pemda Bangka, dengan kapal isap didatangkan dari
Thailand.
Tapi, salah seorang nelayan yang tidak ingin disebutkan namanya
mengatakan, saat ini PT Timah melalui mitranya sudah menghadirkan
sekitar 5 unit kapal isap di perairan Sungailiat. Sedangkan pihak swasta
dengan kapal isap Thailand ada sebanyak 7 unit menambang pada malam
hari.
Benar saja, dari penelusuran wartawan, belasan kapal isap menambang di
perairan Sungailiat tepatnya di depan Pantai Tanjung Pesona dan Pantai
Tikus jika malam hari. Sementara pada siang hari hanya terlihat 4 kapal
isap saja di depan Pantai Tanjung Pesona. Ironisnya lagi, kapal isap itu
bila malam hari menambang tidak sampai 1 mil dari bibir pantai.
Sejumlah kapal isap itu mulai hadir sejak pukul 21.00 WIB hingga
menjelang dinihari. (2nd/1)